spot_img
spot_img

Disiplin Positif Siswa, Guru dan Stakeholder Sekolah

Oleh: Jumad, S.Pd.,M.Pd

Guru SMA Negeri 1 Singosari

          Sebagai pendidik salah satu tugas dan tanggungjawab kita adalah menciptakan budaya positif dengan cara menghilangkan atau mencabut gangguan-gangguan yang menghalangi proses pengembangan potensi murid. Untuk itu murid harus dipandang sebagai subyek pembelajar bukan sebagai obyek pembelajaran.

          Sebagai subyek pembelajaran, murid memiliki keleluasaan untuk bagaimana mereka belajar sehingga mampu berkembang secara optimal. Murid perlu didengar harapan dan keinginanan belajar seperti apa yang mereka butuhkan.

          Dengan kata lain, murid harus diberi ruang yang cukup untuk bisa mengembangkan semua potensi yang mereka miliki dengan rasa aman dan nyaman yang difasilitasi oleh guru sebagai pendidik.

          Lingkungan yang aman dan nyaman bagi murid berarti murid memiliki kesempatan dan kebebasan untuk berproses, belajar, membuat kesalahan, belajar lagi, sehingga mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran.

          Dalam konteks ini yang dimaksud kebebasan adalah tidak adanya tekanan-tekanan yang menghambat murid dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, bisa jadi murid mengalami banyak kesalahan, namun bukan berarti bahwa mereka gagal dalam belajarnya, tetapi lebih kepada butuhnya waktu bagi mereka untuk lebih memahaminya.

          Sebagai pendidik, tugas guru adalah meyakinkan mereka bahwa membuat kesalahan adalah suatu proses pembelajaran itu sendiri. Sebagai pendidik, guru harus selalu ada dan siap mendampingi mereka, siap memberikan bantuan saat mereka kesulitan dalam belajarnya.

          Unsur utama terwujudnya budaya positif di sekolah adalah adanya disiplin positif baik guru, murid dan semua stakeholder yang ada di sekolah. Makna disiplin di sini tidak berhubungan dengan tata tertib, peraturan ataupun kepatuhan terhadap peraturan itu sendiri.

          Disiplin juga bukan berarti adanya pemberian hukuman bagi yang melanggar agar tidak mengulangi lagi perbuatannya. Disiplin dalam konteks ini adalah disiplin positif yakni yang bersumber dari internal mereka sendiri, yaitu semacam kesadaran diri untuk bisa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri serta selalu menyandarkan perilakunya terhadap nilai-nilai kebajikan universal.

          Menurut Diane Gossen dalam bukunya Berjudul restructuring School Discipline mengatakan bahwa disiplin berasal dari bahasa latin yang berarti belajar. Disiplin juga berkonotasi dengan disiplin diri yang membuat seseorang menggali potensinya menuju sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna.

Berita Lainnya:  Peta Jalan ‘Aisyiyah Memajukan Perempuan

          Dengan kata lain, disiplin mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. Makin jelas gambaran bagi kita bahwa untuk membentuk budaya positif sekolah salah satunya adalah pentingnya disiplin positif semua stakeholder sekolah.

          Jika semua stakeholder yang ada di sekolah mampu menerapkan disiplin positif dalam arti mampu mengontrol diri dan menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai kebaikan universal maka budaya positif di sekolah agak mudah kita bentuk.

          Perubahan paradigma guru terhadap murid amat penting dalam menciptakan budaya positif di sekolah. Selain itu, harus ada yang berubah dalam cara pandang guru terhadap murid hubungannya dengan cara guru mengontrol perilaku mereka.

          Selama ini kita meyakini bahwa sebagai guru kita bisa mengontrol perilaku murid, sebagai orang yang lebih tua kita meyakini bahwa kita berhak mengontrol mereka. Kita pun meyakini bahwasanya semua penguatan positif bagi murid sangat efektif dan bermanfaat serta yakin bahwa kritik dan membuat murid merasa bersalah dapat menguatkan karakter mereka.

          Semua itu adalah ilusi jika kita sependapat dengan hasil kajian psikologi terbaru oleh Dr. William Glasser dalam theory control. Dalam bukunya, Dr. William Glasser meluruskan miskonsepsi tentang makna kontrol di antaranya ilusi guru mengontrol murid, ilusi semua penguatan positif efektif dan bermanfaat, ilusi bahwa kritik dan membuat orang bersalah dapat menguatkan karakter, dan ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.

          Teori kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan dan motif tertentu, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai sekalipun. Ketika murid menuruti semua hal yang kita perintahkan bukan berarti bahwa kita dapat mengontrol mereka.

          Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya  guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid  sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. 

          Untuk itu, penting bagi kita memahami motivasi apa yang mendorong perilaku murid sehingga kita bisa menuntun mereka ke hal yang lebih baik dan sudah barang tentu ini akan berdampak terhadap terciptanya lingkungan belajar yang kondusif, aman dan nyaman bagi murid.       Berdasarkan beberapa kajian motivasi yang mendorong perilaku murid di sekolah dipengaruhi tiga hal. Yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaaan dan untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.

Berita Lainnya:  Peta Jalan ‘Aisyiyah Memajukan Perempuan

          Motivasi untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya adalah hal yang seyogyanya kita tumbuhkan pada murid-murid kita daripada motivasi hukuman dan penghargaan.

          Motivasi hukuman dan penghargaan merupakan motivasi yang bersifat eksternal sedangkan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini merupakan motivasi yang bersifat internal. Motivasi internal inilah yang akan membuat seseorang atau murid memiliki disiplin positif sebagai unsur utama terbentuknya budaya positif di sekolah.

          Hal tersebut bisa dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan positif sekolah serta pembentukan keyakinan kelas atau keyakinan sekolah yang berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal. Sebagai contoh nyata, jika kita menggunakan helm saat berkendara, maka menggunakan helm harus didorong oleh kesadaran akan nilai keselamatan dan menghargai diri sendiri, bukan didorong oleh karena takut ditilang atau ingin dipuji tertib berlalu lintas.

          Menuntun murid untuk senantiasa menemukan nilai-nilai kebajikan universal dalam setiap perilakunya akan mendorong murid memiliki kesadaran diri untuk lebih menghargai dirinya sehingga akan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya.

          Program disiplin positif yang selanjutnya juga perlu diterapkan pada murid dalam rangka mewujudkan budaya positif di sekolah adalah restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat.

          Sebagai contoh nyata jika kita sebagai guru menjumpai murid yang melakukan pelanggaran, maka langkah restitusi inilah yang harus kita kedepankan untuk membantu mereka menemukan jalan keluar terbaik bukan justru memarahi mereka dan menghukum mereka.

          Penerapan restitusi pada murid bisa dilakukan dengan tiga tahapan yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan.(*)



BERITA LAINNYA

MALANG, SEPENGGAL FIRDAUS INDONESIA

Nalar Mendidik Guru yang Terkoyak

Dato Anwar

Selalu Ada si Kuda Hitam!

Ketulusan

Sepak Bola dan Kuasa Televisi

Diferensiasi Kurikulum di Madrasah

LA’EEB

Stadion Layak Anak, Mengapa Tidak?

PEMIMPIN BERDAMPAK

Sihir Qatar dan Piala Dunia 2022

Muhammadiyah