spot_img
spot_img

Pecinan Punya Banyak Bangunan Heritage

Ikonik Bernilai Historis

MALANG POSCO MEDIA-Mewujudkan Pecinan heritage tak terlalu sulit. Sebab kawasan tersebut memiliki ciri khas dan ikon heritage. Kini tinggal mengajak warga sekitar dan pakar percepat mewujudkan gagasan itu. 

Salah satu pemerhati sejarah, Agung H Buana mengatakan kawasan Pecinan  dan sekitarnya memiliki daya tarik dan ciri khas tersendiri. Kawasan tersebut memiliki nilai historis tinggi. 

“Sebagai kawasan, Pecinan juga dilengkapi tempat ibadah seperti Klenteng  Eng An Kiong. Selain itu juga ada tempat ibadah Vajra Avalokitesvara. Letaknya da di belakang Toko Bulan Purnama,” terang Agung.

Klenteng Eng An Kiong dibangun pada tahun 1825. Ini merupakan Klenteng Tridharma, yang digunakan sebagai tempat beribadah tiga kepercayaan, Khonghucu, Budha, dan Taoisme.

Lebih lanjut Agung mengatakan keaslian bangunan yang dipertahankan hingga sekarang sekitar  80 persen dari bangunan aslinya.

“Bangunan yang sudah berstatus cagar budaya ya Klenteng Eng An Kiong. Ditetapkan tahun 2018 sebagai cagar budaya dan itu hal yang sangat menggembirakan karena membuktikan bahwa kita inklusif. Tidak hanya untuk bangunan kolonial Belanda tapi juga bangunan Tionghoa,” sebut Agung.

Berita Lainnya:  MWC NU Sukun Usung Tiga Program Kuat

Kawasan Pecinan juga dengkapi dengan sekolah. Salah satunya SMAN 2 Malang yang dulunya  sekolah Tionghoa. Termasuk untuk aspek kesehatan, juga dulu ada balai pengobatan yang kini menjad RS Panti Nirmala.

Salah satu bangunan lain yang memiliki nilai historis dan belum banyak diulas yakni Gedung Ampera. Letaknya di Jalan Gatot Subroto Gang 4. Salah satu tokoh dan sesepuh warga sekitar,  Muhammad Atim mengatakan  Gedung Ampera dulunya merupakan pusat penampilan barongsai.

“Setiap tanggal 17 itu dulu pasti ada barongsai, cuma sempat tidak ada. Lalu ada lagi pas zamannya Presiden Gus Dur,” jelasnya Atim.

 “Jadi di sini sebenarnya termasuk bagian penting sejarah Pecinan. Dulu disini sangat terkenal, kalau barongsai ya di Jodipan Kulon ini,” sambung Atim.

Menanggapi penataan Pecinan Heritage, Atim setuju namun konsep dan perencanaanya harus bagus. Jangan sampai ada yang dirugikan

Berbeda dengan Atim, salah satu tokoh lain di Pecinan, yaitu Sam Ragil atau bernama asli Go Sam Ho mengaku masih ragu. Ia hanya berharap jangan sampai penataan menimbulkan gangguan usaha.

“Di sini 90 persen mayoritas warga berdagang. Jadi jangan sampai (penataan) menggangu,” harap Sam Ragil.

Berita Lainnya:  Awan Mendung Hingga Hujan Diperkirakan Melanda Malang Raya di Akhir Pekan Ini

Apabila penataan kawasan sampai mengganggu kegiatan usaha, maka warga yang dirugikan. Ia meminta agar pemerintah punya perencanaan yang matang.

“Mungkin mau menciptakan nostalgia dengan suasana Pecinan. Tapi menurut saya tidak terlalu cocok, mungkin lebih baik yang di night market itu dibuktikan dulu berhasil apa tidak,” tambahnya.

Hermawan warga lainnya juga masih ragu. Pria kelahiran Pecinan tahun  1971 ini berharap agar pemerintah membuktikan terlebih dahulu kesuksesan Kayutangan.

“Menurut ku kurang begitu tepat, kan sudah ada Kayutangan. Jadi itu saja dibuat berhasil dulu. Lihat dulu konsepnya, apakah bisa, kalau bisa ya monggo. Apakah itu menarik? ya saya tidak tahu. Entah bagi yang lain kalau memang menarik,” kata Hermawan.

Keraguan Hermawan karena penataan kawasan dikhawatirkan menimbulkan gangguan bagi tempat usaha di sekitar. 

“Identiknya Pasar Besar dari dulu kan perdagangan. Kalau di Surabaya mungkin mau dibuat seperti Jalan Kembang Jepun. Kita sih hanya berharap jangan sampai mengganggu usaha kita,” tegasnya. (ian/van)



BERITA LAINNYA