spot_img
Sunday, February 25, 2024
spot_img

Kejujuran Kian Langka

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Malang Posco Media – Berbagai tindak kejahatan yang terungkap belakangan ini, seperti korupsi besar-besaran di kalangan pejabat, kolaborasi pengusaha dan penguasa, mafia hukum dan peradilan, peredaran narkoba dan pergaulan bebas di kalangan remaja, kekacauan rumah tangga akibat perselingkuhan, dan berbagai tindakan kriminal lainnya yang frekuensinya semakin hari semakian meningkat.

Fenomena kehidupan semacam ini tentu amat menakutkan dan menjadi ancaman yang sangat membahayakan kehidupan kita semua. Kemungkaran sosial tersebut lebih besar bahayanya dari pada terorisme, gempa bumi, atau berbagai penyakit fisik yang sebelum ini terjadi.

Karena, berbagai tindakan kejahatan tersebut dapat menghancurkan sebuah bangsa dan sebuah negara. Kehancurannya bukan saja di dunia, akan tetapi di akhirat juga. Semua itu bermuara dari lenyapnya kejujuran dan suburnya kebohongan dalam kehidupan kita saat ini.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di mana-mana kita sulit menemukan sebuah kejujuran dalam masyarakat, sebaliknya di mana-mana kita dengan mudah menemukan kebohongan demi kebohongan. Di rumah, kita dengan mudah menemukan ketidak jujuran antara suami dan istri dan antara anak dengan orang tuanya.

Di pasar, kita dengan mudah menemukan pedagang yang tidak jujur dalam timbangan. Di kantor dan tempat kerja, dengan mudah kita menemukan kebohongan dan ketidakjujuran. Di pengadilan dan penegakan hukum, dengan mudah kita temukan kebohongan dan ketidakjujuran. Di kalangan pengusaha juga di kalangan politisi, dengan mudah kita temukan kebohongan dan ketidak jujuran.

Potret ketidakjujuran bangsa ini memuncak dalam kasus korupsi yang seolah menjadi praktik yang tidak ditabukan. Kondisi Indonesia saat ini termasuk dalam kategori penyakit kronis dengan tingkat kejahatan korupsinya sangat tinggi.

Di mata para ilmuwan sosiologi, korupsi di negeri ini sangat sulit disembuhkan. Penyakit ini dari waktu ke waktu selalu menghiasi pemberitaan media sosial, bahkan mengalahkan isu-isu kemiskinan di berbagai daerah.

Potret ini tentu memunculkan ironi. Menurut data yang ada, jumlah penganut Islam di Indonesia per 31 Desember 2021 adalah 86,9 persen dari total 273,23 juta jiwa. Kenyataan ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim paling besar di dunia. Angka itu setara dengan jumlah total gabungan penduduk muslim di lima negara muslim yaitu Turki, Afghanistan, Iran, Maroko, dan Arab Saudi.

Jumlah penduduk muslim yang besar itu pada saat yang sama bisa menghadirkan kebanggaan sekaligus keprihatinan. Bangga, karena hingga hari ini posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia masih belum tergantikan. Prihatin, karena di dalam negara dengan penduduk muslim terbesar itu kejahatan publik seperti korupsi justru seolah menjadi praktik yang cukup dimaklumi.

Tragisnya lagi, kejahatan-kejahatan publik itu justru dilakukan oleh pejabat publik yang semestinya memberikan keteladanan. Tak berbilang kejahatan korupsi yang kita dengar, lalu lenyap begitu saja tanpa pengadilan.

Ingatan kita belum lagi bisa melupakan satu kejahatan korupsi oleh tokoh tertentu, dan berita serupa, atau bahkan yang lebih dahsyat muncul kembali. Pertanyaannya, di manakah peran agama dalam urat nadi kehidupan sehingga nilai-nilai luhur yang dikandungnya tak lagi mampu menghadirkan kejujuran.

Lebih mengerikan lagi, di dunia pendidikan pun kita sering pula menemukan kebohongan dan ketidak jujuran. Berita terakhir, KPK menetapkan Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof Dr Karomani bersama tiga orang lainnya sebagai tersangka kasus suap proses penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri Unila (21/8/2022).

Hampir tidak ada lini kehidupan saat ini yang tidak dirasuki kebohongan dan ketidakjujuran. Seolah kejujuran sudah menjadi barang langka. Orang-orang yang jujur dianggap makhluk aneh, lugu, dan dianggap tidak memahami perkembangan zaman.

Nabi Muhammad SAW, lebih dari 14 abad silam, telah mewanti-wanti umatnya, agar selalu bersikap jujur dan sekali-kali jangan terlibat dalam kebohongan, sekecil apapun dan dalam kondisi apapun, kecuali dalam keadaan perang, mendamaikan orang yang sedang berselisih dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Itu pun dengan sangat hati-hati dan sebatas yang diperlukan saja.

Kejujuran adalah sumber kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan kebohongan atau ketidak jujuran adalah sumber malapetaka di dunia dan juga di akhirat. Bagi setiap insan beragama, kejujuran adalah segala-galanya. Kalau tidak, ia akan mengalami kehancuran hidup di dunia dan sengsara di akhirat.

Dalam Alquran terdapat berbagai kata “kejujuran” yang menjelaskan berbagai situasi dan kondisi kehidupan orang-orang beriman. Di antarannya: tempat tinggal, komunitas dan negara yang jujur.

Hal ini dijelaskan Allah dalam QS. Al-Isra’: 81-82, terkait dengan Makkah dan masyarakatnya yang sudah tidak kondusif lagi bagi Rasulullah untuk membangun masyarakat yang jujur. Rasulullah memohon agar Allah memberikan solusi tempat keluar yang jujur (mukhraja shidq) dan memperoleh tempat tinggal yang jujur (mudkhala shidq). Lalu, Allah menjadikan Al-Madinah Al-Munawwarah sebagai tempat tinggal masyarakat yang jujur.

Kedua, citra yang baik. Sesungguhnya pencitraan tidak bisa dilakukan dengan rekayasa dan kebohongan. Sebab betapapun canggihnya rekayasa dan kemampuan membungkus kebohongan, suatu saat pasti terbongkar juga. Citra yang baik, hanya dapat dilakukan dengan kejujuran dalam segala hal, mulai dari keyakinan, undang-undang sampai kepada akhlak sehari-hari (QS. Maryam: 50).

Ketiga, orientasi hidup. Tujuan hidup orang-orang yang jujur adalah kehidupan akhirat yang abadi dengan segala fasilitas super VIP. Karena itu, siapapun dia, setinggi apapun pangkat dan kedudukannya, sebanyak apapun harta dan ilmunya, sebesar apapun pengaruhnya di masyarakat, tidak akan pernah memalingkannya sedikit pun dari orientasi hidupnya yang sebenarnya, yakni kemuliaan dan keridhaan Allah di akhirat kelak (QS. Al-Qamar: 54-55).

Demi membangun sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Kita memerlukan rumah tangga, komunitas, dan bahkan negara yang jujur agar kejujuran itu benar-benar menjadi karakter bangsa negeri ini.(*)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img