spot_img
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Melodramatik Politik

Berita Lainnya

Berita Terbaru

          Dunia politik bak panggung sandiwara. Para aktor dan aktris politik itu sedang memainkan perannya masing-masing. Ada peran wajar, ada pula yang berpura-pura. Panggung politik tak jarang menyajikan melodrama politik yang bikin emosi bercampur aduk. Politik tak ubahnya seperti tontonan drama opera sabun. Situasi ini juga melahirkan masyarakat melodramatik yang lebih suka gosip, kasak-kusuk, olok-olok, dan saling membuli, ketimbang masyarakat yang mengedepankan nalar dan etika politik.

          Di permainan panggung drama politik itu ada yang showoff kuasa. Dengan kekuasaan yang dimilikinya mereka mampu merekayasa apa saja. Mumpung lagi kuasa, kapan lagi memanfaatkan kekuasaannya kalau bukan sekarang, mungkin begitu di benak sang penguasa. Di sisi lain, ada pula yang menampilkan diri sebagai pihak yang teraniaya dan berharap menuai simpati dan rasa iba. Dalam panggung drama politik itu ada yang sukses memainkan drama playing victim.

- Advertisement -

          Di panggung politik itu pula banyak kader partai yang kecewa. Mereka diserobot oleh orang luar yang dalam sekejab bisa jadi ketua partai. Ada pula drama kekecewaan partai besar yang merasa ditinggalkan kadernya. Ada kader yang sudah lama digadang-gadang bakal menjadi petugas partai yang loyal ternyata justru menyeberang ke kubu sebelah. Di panggung politik itu pula para aktor politik yang sedang berkompetisi menjadi orang nomor satu di negeri ini bertemu dan duduk bersama dalam satu meja makan.

Melodramatik

          Melodrama adalah genre dalam seni pertunjukan, terutama dalam drama, film, dan teater, yang dicirikan oleh emosi yang sangat kuat, konflik yang dramatis, dan situasi berlebihan. Istilah melodrama berasal dari kata Yunani “melos” (yang berarti lagu) dan “drama” (yang berarti tindakan). Melodrama sering kali menekankan perasaan dan konflik, seringkali dengan karakter baik dan jahat yang sangat jelas, dan berfokus pada pertentangan moral antara keduanya.

          Dalam konteks politik, istilah melodramatik digunakan untuk merujuk pada situasi di mana peristiwa atau tindakan politik diperlakukan dengan cara yang dramatis, emosional, atau berlebihan untuk mempengaruhi opini publik atau mengalihkan perhatian dari isu-isu penting. Melodramatik politik seringkali melibatkan dramatisasi peristiwa politik, retorika yang berlebihan, dan penggunaan emosi untuk memanipulasi opini publik. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan tindakan atau retorika politik yang bertujuan untuk menciptakan sensasi, kontroversi, atau ketegangan.

          Garin Nugroho (2019) dalam bukunya “Negara Melodrama” mengartikan melodrama sebagai upaya mengelola emosi pemirsa untuk membuatnya betah berlama-lama melihat produk hiburan. Ciri-ciri melodrama antara lain melihat tokoh serba hitam putih sehingga memunculkan kultus mengidolakan seseorang dan begitu membenci orang yang memiliki karakter berkebalikan dengan idolanya. Rupanya melodrama juga turut dibawa dalam budaya dan kehidupan politik bangsa Indonesia.

          Garin menyebut dalam melodrama tampak dengan penggunaan rumus hitam putih, selalu ada yang dianggap baik dan jahat, tokoh miskin dan kaya, bumbu adegan berkelahi seperti kungfu, silat, serta tokoh yang harus berparas cantik dan tampan. Situasinya semakin seru dengan kehadiran ­media sosial yang mampu memunculkan masyarakat penggemar. Inilah rumus melodrama yang menjadikan dalam sebuah film dijamin bakal laris manis.

          Rumus melodrama film itu ternyata serupa di panggung politik. Siapapun politisi yang mampu meramu bumbu melodrama maka bisa dipastikan dapat merebut simpati rakyat. Laku melodramatik politik setidaknya bisa kita lihat dari perilaku para politisi dan respon masyarakat. Karena kehidupan politik beserta respon masyarakatnya bisa dilihat sebagai hubungan penonton dengan tontonan drama politik yang sedang dimainkan.

Hal Buruk

          Dalam praktik melodramatik politik bisa mencakup beberapa hal seperti penggunaan retorika yang berlebihan dan dramatis untuk menggambarkan isu-isu politik. Beragam konflik buatan atau skandal juga sering dimunculkan untuk menarik perhatian media dan pemilih. Penggunaan citra atau simbolisme dramatis dalam kampanye politik juga sering dilakukan. Melodramatik politik sering dikritik karena dapat mengaburkan isu-isu substansial dan mengalihkan perhatian dari masalah penting yang seharusnya menjadi perhatian utama.

          Melodramatik politik seringkali memalingkan perhatian dari isu-isu politik penting dan substansial. Fokus pada dramatisasi dan emosi dapat menyebabkan pemilih dan masyarakat umum terlalu terpaku pada peristiwa-peristiwa spektakuler dan melupakan masalah-masalah yang sebenarnya memerlukan perhatian.

          Praktik melodramatik politik dapat mendorong pemimpin politik untuk lebih memikirkan citra mereka dan bagaimana mereka tampak di media daripada mengembangkan dan melaksanakan kebijakan yang baik untuk masyarakat. Hal ini dapat mengakibatkan pengabaian terhadap kebijakan yang berkualitas dan memadai.

          Tak jarang melodramatik politik dapat memicu konflik yang berlebihan dan polarisasi di antara masyarakat. Retorika dramatis dan emosi yang terlibat dalam melodramatik politik dapat memperkuat terjadinya pembelahan dan ketegangan di masyarakat. Melodramatik politik juga dapat menciptakan ketidakstabilan politik karena sering kali berkaitan dengan konflik dan kontroversi yang berkepanjangan. Ini dapat mengganggu stabilitas politik dan menghambat kemajuan.

          Melakukan praktik melodramatik politik daripada pemikiran yang bijaksana dan rasional dalam pengambilan keputusan politik dapat mengurangi kepercayaan masyarakat pada sang politisi. Dalam upaya untuk menciptakan dramatisasi, isu-isu kompleks sering disederhanakan menjadi narasi yang lebih hitam putih, yang mengabaikan nuansa dan kompleksitas yang mungkin ada dalam masalah-masalah tersebut.

          Ketika melodrama politik mengambil alih proses politik yang seharusnya sehat dan berlandaskan pada diskusi dan pertimbangan yang rasional, ini dapat menjadi hal buruk bagi masyarakat dan demokrasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk menjadi kritis terhadap praktik-praktik melodramatik politik dan memprioritaskan diskusi dan kebijakan yang substansial dalam proses politik.

          Fenomena melodramatik politik telah memunculkan masyarakat pemilih yang melodramatik pula. Tak sedikit pemilih yang hanya mengedepankan prinsip-prinsip melodrama yang menganggap pilihannya sebagai yang terbaik dan yang lain adalah yang paling buruk. Sebaliknya, pemilih tidak banyak mengunakan cara berpikir yang rasional kritis, sehingga hanya mampu memilih politisi populer bukan pemimpin yang mempunyai visi misi yang pro rakyat dan realistis.(*)

- Advertisement - Pengumuman
- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img