spot_img
Monday, February 26, 2024
spot_img

Merevitalisasi Nilai-Nilai Keilahian

Berita Lainnya

Berita Terbaru

 “Iqra’ bismirabbikalladzi kholaq.” Ayat pertama dari surat Al-Alaq merupakan surat pertama yang diturunkan Allah SWT melalui Malaikat Jibril di Gua Hira kepada nabi Muhammad SAW. Ada lima ayat pertama yang diturunkan sebagai panduan pertama bagi perjalanan kerasulan Muhammad SAW.

Lebih jauh ayat ini merupakan landasan utama bagi manusia pembelajar sebagai manifestasi Khalifatullah di muka bumi ini. Melalui ayat ini, Allah SWT meminta manusia untuk belajar dan memahami ayat-ayat-NYA baik yang tertulis dalam kitabnya maupun berupa tanda-tanda kebesaran-NYA melalui betapa kompleks, terstruktur dan teraturnya susunan alam semesta ini dibuat.  

Kata ‘Iqra’ atau ‘Bacalah’ merupakan perintah sekaligus ajakan bagi manusia untuk mengupas seluruh fenomena alam serta akibat yang menyertainya untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia. Tuhan meminta segenap umat manusia untuk senantiasa belajar dan memahami serta mengambil setiap pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Belajar tidak mengenal usia, waktu bahkan kondisi. Manusia selalu dituntut untuk belajar, merenungi dan mengambil setiap hikmah yang terkandung di dalamnya dan bertujuan untuk perbaikan dalam kehidupan selanjutnya.

Ayat tersebut dilanjutkan dengan ‘bismirabbikalladzi kholaq’ atau ‘dengan nama Tuhan yang menjadikan’ konteks dari ayat ini, menurut penulis sangatlah luas.  Bahwa rangkaian proses belajar dan pembelajaran harus senantiasa mengikutsertakan Tuhan.

“Mengikutsertakan” Tuhan dalam setiap proses pembelajaran bukan sekadar mulut kita selalu berdzikir layaknya berdzikir saat kita setelah sholat, akan tetapi sejak dari niat awal kita belajar sampai tujuan, selalu menghadirkan nilai-nilai ke-Ilahi-an.

Dimulai dari niat. Niat dalam hal ini merupakan sebuah konsensus atau ketetapan dan inti kita belajar. Dalam hal menghadirkan nilai-nilai ke-Ilahi-an dari segi niat adalah bagaimana kita memposisikan belajar sebagai salah satu sarana untuk mengabdi kepada Tuhan dengan mengharapkan ridha-NYA. 

Ridha menurut kamus al-Munawwir artinya senang, suka, rela. Dan bisa diartikan ridha/ rela adalah nuansa hati kita dalam merespon semua pemberian-NYA yang setiap saat selalu kita rasakan. Pengertian ridha  juga menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh  Allah SWT. Baik berupa peraturan (hukum) atau pun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Tuhan.

Sebagai mahluk yang meyakini adanya Tuhan dan salah satunya diwujudkan dalam ketetapan-NYA akan melahirkan sikap legowo dan ikhlas. Bila sudah niat hanya untuk mencari ridha Tuhan maka dalam belajar pun tidak akan diliputi keraguan akan kegagalan, pintar, bodoh dan sebagainya.

Bila niat yang sudah dicetuskan di awal sudah dijaga maka kecurangan-kecurangan dalam setiap proses pembelajaran tidak akan dilakukan. Karena ia yakin bahwa dalam mencari keridhaan Tuhan harus melalui jalan atau cara yang “dikehendaki” Tuhan.

Buah dari menjaga niat yang baik dalam setiap proses pembelajaran dapat dilihat dari kesungguhan dan sikap pantang menyerah untuk selalu melakukan yang terbaik. Pembelajar yang selalu menyertakan nilai-nilai ke-Tuhan-an dalam setiap proses belajarnya tidak hanya memiliki tujuan untuk pintar/ pandai dan berujung kepada mudah untuk mendapat pekerjaan melalui ijazah yang dimilikinya.

Ketika sudah mampu menjaga niat dengan tetap mengutamakan nilai-nilai ke-Tuhan-an melalui setiap proses yang dilaksanakan, maka pembelajar akan senantiasa menyerahkan “ending” atau output tetap dalam koridor ke-Tuhan-an. Bahwa Tuhan tidak akan memberikan hasil yang mengecewakan kepada setiap pembelajar sejauh para pembelajar tetap konsisten dalam menjalankan proses yang baik. 

Bisa jadi salah satu sumber persoalan dalam proses pembelajaran (pendidikan) kita selama ini adalah para pendidik melupakan prinsi-prinsip ke-Ilahi-an dalam proses pembelajarannya. Sikap-sikap kejujuran, peduli kepada sesama, pembelajaran yang berorientasi kepada proses, metode pengajaran yang mengutamakan kemajemukan potensi anak didik sudah mulai tercerabut dalam proses pendidikan kita.

Setiap proses belajar mengajar di sekolah hendaknya mengutamakan prinsip-prinsip dasar sifat manusia selain mengejar tentang achievement dan angka-angka pencapaian belajar anak didik. Karena angka-angka itu merupakan sebuah konsekuensi dari setiap proses pendidikan yang berjalan.

Bila proses pembelajaran yang berjalan di sekolah melupakan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan maka angka-angka pencapaian belajar itu pun kurang bermakna bagi proses perkembangan karakter anak didik. Semua ini diawali dari pendidik dalam hal ini guru, maukah guru dalam setiap proses pembelajaran mulai merubah paradigma bahwa anak didik merupakan titipan dan sebuah kertas putih yang sejatinya mewarisi sifat-sifat ke-Ilahi-an. Mulai dari kejujuran, setiap anak memiliki kemampuan yang beragam terhadap berbagai hal.

Penulis meyakini untuk mendapatkan anak didik yang memiliki kepribadian yang mantap, nilai-nilai ke-Ilahi-an itu tidak boleh hilang dalam setiap proses pendidikan. Dimana nilai-nilai ke-Tuhan-an yang perwujudannya adalah sikap-sikap positif yang mampu membangun karakter anak sudah mulai luntur maka anak didik pun tak ubahnya sebuah robot yang tak memiliki nurani serta karakter sebagai manusia yang utuh.(*)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img