spot_img
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Ojo Dibandingke

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA –

- Advertisement -

Wong ko ngene kok dibanding-bandingke

(banding-bandingke)
Saing-saingke, yo mesti kalah
Tak oyak’o, aku yo ora mampu
Mung sak kuatku mencintaimu

Ku berharap engkau mengerti, di hati ini
Hanya ada kamu

………

Jangan terkecoh dulu. Itu lagu memang sangat viral dan makin viral setelah Farel Prayoga menyanyikannya di depan Presiden Jokowi dan jajaran menteri-menterinya dalam peringatan HUT ke 77 Kemerdekaan RI lalu.

Secara langsung memang tidak ada kaitannya lagu tersebut dengan tulisan ini. Tapi bila ingin dikaitkan, ya bisa-bisa saja. Bahkan sangat bisa. Karena konteksnya membanding-bandingkan itu tidak hanya soal pacar, kekasih, suami, atau apapun. Termasuk membandingkan soal infrastuktur jalan yang halus mulus dan jalan yang rusak berantakan seperti di ‘dunia lain.’ 

Saya memilih intro tulisan dengan reff lagu berjudul Ojo Dibandingke karangan Abah Lala itu karena lagu itu yang mengiringi dan saya dengarkan berulang ulang saat perjalanan ke lokasi wisata, Pantai Tiga Warna di Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Minggu (21/8) lalu.

Mengendarai motor Honda CBR 150, perjalanan saya tempuh sekitar 2 jam. Berangkat pukul 09.00 sampai pukul 11.00. Rute yang saya pilih, Dinoyo – Malang Kota – Gadang – Bululawang, Turen – Sumbermanjing Wetan arah TPI Sendangbiru. Tapi karena berwisata di Pantai Tiga Warna harus reservasi dulu, maka rute masuk harus melintasi kawasan base camp Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna.

Masuk kawasan ini harus melalui dua pos. Pos I untuk pengecekan reservasi atau pengunjung. Dan Pos II untuk menyelesaikan administrasi pembayaran dan pembelian tiket, apakah menuju Pantai Gatra atau Pantai Tiga Warna. Untuk yang ke Tiga Warna harus sudah reservasi dulu dengan biaya tiket masuk Rp 10 ribu per orang dan Rp 150 ribu untuk jasa guide.

Dari Pos 2, saya harus berjalan kaki sekitar 50 meter untuk sampai di Pantai Gatra. Di Pantai ini, saya dijemput guide (Mas Herman) yang siap mengantarkan ke Pantai Tiga Warna. Kami kemudian berjalan kaki sepanjang 1 kilometer, melintasi jalan hutan dan kebun pisang. Ada yang berpaving dan ada yang masih tanah merah. Karena penasaran dengan pantainya, semangat pun menyala meski harus berjalan lumayan jauh. Maklum nyaris tak pernah jogging.

Saat tiba di Pantai Tiga Warna, hati pun riang gembira. Kalau dari bibir pantai dengan pandangan vertikal, tiga warna pantai tidak terlalu kelihatan. Tapi bila dari view agak tinggi, maka keindahan tiga warna pun sangat elok. Ada hijau, biru dan krem atau coklat kemerahan. Ada spot di atas karang yang memang sangat bagus untuk foto pantai ini.

Di sini, ada fasilitas snorkling dengan biaya Rp 25 ribu per orang. Sayangnya saat melihat terumbu karang yang memang dijaga oleh CMC, pandangan terganggu dengan sampah yang diduga kiriman entah dari mana. Ada kresek hitam, ada plastik putih, ada bekas tambang, dan bungkus bekas deterjen dan shampo.

Keindahan dan kenyamanan suasana pantai membuat betah. Hampir dua jam, menikmati deburan ombak yang tidak begitu besar sembari melihat perahu nelayan yang menuju Pantai Sendangbiru. Berjemur sambil tiduran di bawah terik matahari setelah lelah snorkling. Suasana makin nyaman dengan hembusan angin yang membuat tubuh hangat tapi kedinginan.

Setelah puas, masih dengan baju basah, kami pindah, kembali jalan kaki menuju ke Pantai Gatra. Kenapa tidak ganti baju? Karena di Pantai Gatra, kami masih mau melanjutkan atraksi bermain Kano. Kalau ke Pantai Gatra ini tidak perlu reservasi dulu. Tarif Kano single Rp 25 ribu per orang, Kano Long Rp 50 ribu per orang. Di pantai yang bisa melihat dari kejauhan Pantai Teluk Asmara ini, pengunjung bisa bermain kano sepuasnya. 

Tepat pukul 15.30, kami menyudahi bermain kano dan membersihkan diri. Setelah rapi, kami pun kembali berjalan ke Pos 2 dan berhenti di pos pengecekan barang-barang yang dibawa. Di sini, pengunjung diperiksa semua barang bawaan, terutama makanan dan minuman yang dibawa. Jumlahnya harus tetap sama. Karena pengelola CMC menerapkan aturan ketat, pengunjung tidak boleh membuang dan meninggalkan sampah di kawasan pantai dan lokasi wisata.

Nah, saat pulang untuk kembali ke Kota Malang inilah inti tulisan kali ini. Karena berharap rute cepat, saya mengambil jalur ke kiri melintasi Jalur Lintas Selatan. Di sepanjang jalur ini terbentang puluhan pantai yang sangat indah. Dan ini potensi pendapatan besar daerah dari sektor wisata. JLS sangat mulus hingga arah Pantai Kondang Merak.

Tapi karena pulang ke Malang, maka saya belok kanan arah Bantur – Gondanglegi. Saat awal jalan masih mulus, tapi masuk desa Srigonco, jalan raya hancur. Di depan saya ada mobil plat L, W, AG, N dan truk yang mengangkut tebu. Semua berjuang menaklukkan medan jalan yang rusak berat dan tidak bisa dipilih.

Semua tersiksa dengan kondisi jalan, mulai dari Srigonco, Bantur dan Wonokerto hingga jembatan Wonokerto. Mungkin Anda yang pernah melintasi jalan ini heran, kok kerusakan separah ini tidak diperbaiki? Sejak kapan kerusakan jalan ini? Dan sampai kapan dibiarkan rusak seperti ini? Padahal informasinya sudah banyak truk yang mengalami kecelakaan akibat jalan yang menyiksa fisik sopir dan pengendara motor dan mobil serta truk ini.

Apalagi saat saya melintasi jalan ini, sudah senja masuk maghrib. Benar benar seperti melintasi ‘dunia lain.’ Saya sendiri yang tahun 2000 kali pertama menjadi wartawan Malang Post (kini Malang Posco Media), sering ke Malang selatan, sampai tidak mengenali lagi wilayah ini. Benar benar asing. Di atas motor itu, saya terus menggerutu karena lelah mengendarai motor sambil fokus menghindari lubang jalan. 

‘’Kok masih ada di era digital ini jalan rusak separah ini. Andai Jokowi tahu, betapa reaksinya?’’ batin saya menggerutu. Kegelisahan soal jalan rusak inilah yang kemudian nyambung ke lagu di atas. Saya dan (mungkin Anda juga) jadi membanding-membandingkan jalan yang melintasi Sumbermanjing menuju Pantai Tiga Warna, meskipun berkelok kelok tapi mulus. JLS tambah mulus lagi.

Nah ini, jalan di wilayah Kabupaten Malang yang menuju wisata pantai, yang harusnya juga mulus, kok malah rusak parah? Apalagi kerusakan ini kabarnya disinyalir akibat pembangunan JLS tahap 2 yang sudah tuntas pembangunan 2021 lalu.

Ternyata jawaban kegelisahan itu saya temukan sesampainya di kantor. Bukannya Pemkab Malang tidak ingin memperbaiki jalan itu, tapi semua dalam proses. Pemkab Malang sangat serius merencanakan pembangunan jalan menuju wisata pantai Malang Selatan itu.

Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang Ir Romdhoni menegaskan Jalur Gondanglegi – Balekambang rencananya mulai dibangun tahun 2023. Seluruh anggaran dari APBN.  ‘’Pemerintah pusat sudah menyetujui koridor tengah yaitu jalur Gondanglegi-Balekambang menjadi Jalan Strategis Nasional. Harapan pemerintah mewujudkan pemerataan dan peningkatan ekonomi di wilayah Malang Selatan pun dapat segera terwujud,’’ ujarnya kepada Malang Posco Media (12/4/2022) lalu.

“DED teknis jalur Gondanglegi-Balekambang sudah disetujui. Saat ini tahapannya pembebasan lahan. Jika semuanya lancar, tahun 2023 mulai dibangun,’’ katanya.

Pembebasan lahan untuk melebarkan ruas jalan standar nasional. Lebarnya sekitar 12 meter. Jalur Gondanglegi-Balekambang dibangun sepanjang 33 kilometer. Pemerintah pusat juga siap melanjutkan pembangunan JLS hingga Kabupaten Blitar.

Sebelumnya Bupati Malang Sanusi juga menyebutkan pembangunan infrastruktur jalan, khusunya jalur Gondanglegi-Balekambang adalah untuk pemerataan ekonomi di wilayah Malang Selatan. Karena itu Pemkab Malang telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,7 Miliar yang bersumber pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Dalam waktu dekat, perencanaan untuk pengerjaan jalan akan dilakukan di Gondanglegi menuju (Pantai) Balekambang. Sekitar Rp 2,7 Miliar dari APBD dan dari Kemen PUPR itu sekitar Rp 600 Miliar untuk mengembangkan (jalan) itu,” jelas Bupati asal Gondanglegi itu kepada Malang Posco Media (6/4/2022) lalu.

So, bagi Anda yang pernah menggerutu sama dan protes keras soal kerusakan jalan di jalur itu, maka tenang dan bersabarlah. Dan bagi pengunjung yang ingin berwisata ke Balekambang dan pantai sekitarnya, lebih baik ambil jalur arah Sumbermanjing Wetan dan memasuki JLS (PP). Biar pergi dan pulang wisata tetap aman dan nyaman. Tidak tersiksa jalan.

Karena semua masih proses, maka jangan dibanding-bandingkan mulusnya JLS dengan kondisi jalan rusak Bantur menuju Gondanglegi itu. Karena semua akan lebar dan mulus pada akhirnya. Sabar!(*)

- Advertisement - Pengumuman
- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img