spot_img
Saturday, June 22, 2024
spot_img

Soak Ngalam Lestarikan Bahasa Walikan

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Bahasa walikan menjadi warisan budaya yang patut untuk dilestarikan. Hal itu juga yang melatar belakangi lahirnya salah satu produk UMKM oleh-oleh khas Malang, yakni Soak Ngalam.

Menghasilkan banyak produk oleh-oleh mulai dari kaos, jaket sampai dengan souvenir yang dijual, namun yang menjadi intinya adalah pelestarian terhadap budaya lokal, salah satunya bahasa walikan tersebut.

“Awal mula kami berdiri di Desember 2009. Kala itu Pak Tjandra Purnama Edhi sebagai owner berprinsip untuk dapat mempertahankan budaya walikan agar tetap lestari. Salah satunya diterapkan dalam bentuk kaos, souvenir, jaket dan lainnya,” tutur Pramuniaga Soak Ngalam,  Agus Kurniawan.

Dilanjutnya, produk-produk yang dijual di Soak Ngalam merupakan produk lokal dengan menggunakan bahan-bahan yang berkualitas. Sasarannya adalah para turis dalam negeri maupun luar negeri.

“Sejauh ini untuk pasaran kami di segala usia, karena kami juga menyediakan produk untuk anak-anak kecil diatas 3 tahun keatas. Kebanyakan memang untuk oleh-oleh ya, banyak pariwisata dalam negeri maupun luar negeri,” imbuhnya.

Bahkan produknya tersebut beberapa kali di beli oleh turis-turis mancanegara yang sedang berkunjung dan berlibur di Kota Malang. Harganyapun sangat bervariasi dan ramah dikantong.

“Untuk suvenir dibanderol dengan harga mulai dari Rp 8 ribuan saja. Sementara untuk produk-produk kaos itu di harga Rp 75 ribu. Ada lima ukuran yang kami sediakan, dari ukuran s sampai dengan ukuran xxl yang paling besar,” ucapnya.

Desainnya pun unik, dengan memanfaatkan bahasa walikan sebagai bahasa khas Malang di setiap desain kaos dan jaket mereka. Kosa kata seperti ‘ayas’, ‘ladub ngalam’, ‘ebes’, ‘ujutes’ dan masih banyak yang lainnya bisa ditemui di setiap desain kaos mereka.

“Jadi kami berkarya tidak hanya sekadar berkarya saja, namun juga sekaligus melestarikan budaya Malang. Kenapa begitu, karena semakin kesini bahasa walikan itu semakin hilang. Ini yang jadi visi kami kedepannya untuk dapat mempertahankan warisan budaya,” katanya.

Meskipun sempat down saat pandemi menyerang, namun usaha tersebut dapat kembali bangkit. Saat ini, mereka lebih banyak menggunakan kemajuan digital untuk mempromosikan produk-poduk mereka. Salah satunya melalui media sosial dan juga market place.

“Kami juga biasa ikut pameran-pameran untuk memperluas relasi dan memperkenalkan produk kami jadi selain memanfaatkan media sosial, kami juga tetap melakukan promosi secara manual dari mulut ke mulut kepada para calon konsumen kami,”tandasnya. (adm/aim)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img