spot_img
Friday, June 14, 2024
spot_img

Hidup dari Piercing, Utamakan Edukasi Seni Body Modification

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Tangan telaten Alvin Firmansyah memasangkan tindik di daun telinga hingga beragam bagian tubuh manusia. Memastikan keamanan dan hasil yang maksimal untuk setiap orang yang datang ke studionya. Begitulah keseharian pria yang dikenal dengan panggilan Vins itu. Ia seorang seniman dalam hal Body Piercing atau tindik.

MALANG POSCO MEDIA, MALANG –  Alvin hidup dari piercing sejak ia mengenal dan menjadi pengguna di masa remaja. Kini, ia sudah punya studio bersama beberapa rekannya yang melayani piercing dengan kualitas tinggi.

Berasal dari Desa Maguan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang ia lulusan sekolah menengah pertama (SMP) yang memilih tak melanjutkan lebih jauh pendidikannya. Namun, ia memiliki pengalaman dan belajar banyak hal di luar sekolah hingga seperti sekarang.

Pria 29 tahun itu mengawali karirnya sejak 2014 lalu. Kala itu ia kali pertama menyentuh dunia seni tato terlebih dahulu. Sang kakak dari Alvin merupakan perajin perhiasan. Dari sana ia juga sempat ikut belajar menjadi perajin.

“Saya belajar tato tahun 2014-2015. Karena saya ikut belajar dan kerja jadi perajin logam mulia, banyak teman yang bilang kalau saya tidak cocok kalau belajarnya tato. Koneksinya dibilang lebih ke Piercing,” cerita Alvin, Kamis (1/2) kemarin.

Akhirnya, lanjut Alvin, ia memilih mencoba belajar banyak soal body modification. Khususnya tindik. Dia belajar secara otodidak dari beberapa teman yang ditemuinya. Jaringannya sejak belajar tato juga memberikan banyak masukan.

“Sejak itu saya belanjakan peralatan Piercing. Dan peralatan tato dulunya yang saya punya dijual lagi. Dialihkan semuanya peralatan ke body piercing, akhirnya minat saya timbul,” ungkapnya.

Pada 2016, ia membentuk Vins Plug dengan melayani tindik telinga kayu ukiran. Hampir setiap hari, ia mendapatkan pelanggannya yang datang dari berbagai koneksi teman dan dari beberapa daerah di Malang Raya. Jasanya itu berjalan dua tahun hingga ia memutuskan belajar lagi lebih jauh tentang body modification yang lebih variatif.

Ia sempat mengalami kendala belajar, ia harus memahami anatomi tubuh, belajar bagaimana agar peralatan steril dan bersih. Sehingga apa yang ia layani tidak berdampak buruk bagi pelanggannya.

“Masuk dengan basic perajin malah langsung belajar anatomi juga secara tidak langsung tentang kedokteran. Mencari lagi teman yang paham khususnya kulit dan syaraf. Peralatan yang saya gunakan juga berbau peralatan bedah,” ungkapnya.

Ia bercerita, sebelum bergelut di bidang Piercing dan tato, dia berkarir di berbagai bidang dari menjadi bartender hingga bekerja di bidang perhotelan. Hingga kembali pada tato dan seni body modification.

Lama bergelut soal tindik, ia paham bagaimana seharusnya memperlakukan  tubuh manusia. Kini ia fokus pada edukasi setiap kali pelanggannya datang. Edukasi tentang kualitas piercing, metode hingga perawatan. Ia menganggap wajar banyak yang tidak memahami apa itu tindik sebenarnya dan bagaimana seharusnya diperlukan dengan peralatan yang steril dan bersih. Sehingga tidak ada infeksi di tubuh manusia dan kendala lain yang merugikan.

“Kadang harga dianggap terlalu tinggi. Tapi tidak memperhatikan peralatan yang memadai seperti apa. Tergiur dengan harga murah, padahal yang berkualitas juga pastinya harga akan mengikuti. Karena ini dipakai di tubuh, jadi yang baik seperti apa agar tidak infeksi ke depannya,” tutur Alvin.

Alvin mempunyai studio dengan rekan rekannya di Ruko Ditas MT Hariyono Dinoyo Kota Malang. Di sana, Vins membuka jasa sejak pukul 10.00 hingga 22.00 malam. Belajar piercing membuatnya memahami proses. Suka duka dia lewati termasuk berbagai anggapan miring dari keluarga.

“Seperti dianggap tidak akan jadi apa-apa kalau bertato atau bertindik. Pandangan itu perlahan berubah setelah  paham sebenarnya apa aktivitasnya. Namanya orang di desa pasti masih kolot. Dari situ bertahun-tahun mereka perlahan tahu kerjaan saja seperti apa dan juga malah ikut ngulik, ingin tahu,” katanya.

Suatu saat, ia berkeinginan membuka studio lebih baik yang melayani tato dan tindik secara profesional. Dari sana ia juga berharap dapat lebih jauh menyampaikan edukasi kepada masyarakat luas tentang Body Piercing. (prasetyo lanang/aim)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img