spot_img
Tuesday, June 25, 2024
spot_img

Kebijakan Baru Otoritas Arab Saudi, Jemaah Wajib Memiliki Smart Card

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA-Usai penangkapan salah seorang jemaah haji asal Malang yang gagal menunjukkan nusuk card saat diperiksa petugas keamanan Arab Saudi, kini menjadi perhatian serius petugas haji Indonesia. Khususnya petugas sektor Makkah yang membawahi kloter, termasuk di Kloter 29 Kabupaten Malang. Nusuk card atau lebih dikenal sebagai smart card menjadi kebijakan baru Otoritas Arab Saudi untuk musim haji 1445 H/2024 M.

Seperti dilaporkan wartawan Malang Posco Media, Buari dari Kota Makkah, seluruh jemaah haji Indonesia disyaratkan harus memiliki smart card tersebut. Secara bertahap, proses pembuatan dan penyerahan smart card  termasuk di Kloter 29 hingga Jumat (7/6) belum semua mendapatkannya.

“Ya sabar dulu, saya tidak tahu persis nusuk card dicicil seperti itu, padahal sangat dibutuhkan jemaah,” ungkap Imam Chanapi, S.Ag., Ketua Kloter 29 menyebutkan sekitar 140 jemaah dari kloter 29 yang belum mendapatkan smart card. “Jemaah jangan gusar, akan ada solusinya dari pemerintah, karena pengaktifan kartu nusuk ini dari pemerintah diserahkan ke pihak maktab (pihak yang membantu perusahaan haji di Arab Saudi),” terang Kholisin, Pembimbing Ibadah Kloter 29.

Proses penyerahan smart card kepada satu per satu jemaah haji asal Kabupaten Malang, dilakukan langsung oleh petugas Maktab di Kota Makkah.

Adanya nusuk card atau smart card ini menjadi sesuatu yang berbeda dalam proses pemberangkatan jemaah haji kali ini. Khususnya dari hotel ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Jemaah haji Indonesia akan melakukan proses scan barcode smart card terlebih dahulu sebelum naik ke bus.

Smart card menjadi salah satu terobosan otoritas Arab Saudi pada penyelenggaraan haji tahun ini. Program ini mendapat perhatian secara khusus dari Kementerian Haji, Kementerian Dalam Negeri, dan pihak Keamanan Umum Arab Saudi. Jemaah yang tidak memiliki smart card, dilarang masuk ke Armuzna, apapun kedudukannya. Pemerintah Saudi akan menempatkan para petugas yang melakukan pemeriksaan secara berkala untuk memastikan seluruh jemaah di Armuzna memiliki smart card. Pemerintah Arab Saudi menyiapkan sanksi berat bagi para pihak yang melanggar.

“Ketentuan ini sengaja disampaikan sejak awal, bukan untuk menakut-nakuti. Sebab, kita justru ingin memberikan hak untuk jemaah haji yang sudah membayar. Sehingga, mereka bisa melaksanakan ibadah hajinya dengan tenang dan nyaman,” terang Ketua Masyariq M Amin Indragiri saat Rapat Koordinasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bersama Masyariq dan pimpinan Maktab di Makkah, Kamis (6/6).

Nusuk card atau smart card yang wajib dimiliki semua jemaah haji untuk bisa masuk Arafah saat puncak haji.

Pertemuan ini membahas persiapan layanan menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Salah satu yang dibahas adalah distribusi smart card yang baru diberlakukan tahun ini dan skema penggunaannya dalam proses pergerakan jemaah ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Adapun maktab adalah para pihak yang membantu Masyariq dalam memberikan layanan kepada jemaah haji Indonesia. Total ada 73 maktab yang melayani jemaah haji Indonesia.

Berikut Prosedur Penggunaan Smart Card saat Keberangkatan Jemaah ke Arafah:

1. Bus akan datang ke hotel jemaah bersama petugas yang membawa alat scan barcode.

2. Jemaah bersiap di lobi hotel sesuai dengan jadwal keberangkatan ke Arafah yang telah disusun

3. Petugas melakukan scan barcode pada Smart Card Jemaah sehingga namanya muncul dalam manivest.

4. Jemaah yang sudah discan barcode dipersilakan menaiki bus.

5. Jika sudah penuh, manivest akan ditutup dan pintu bus akan disegel.

6. Bus berangkat menuju Arafah. Pintu bus baru akan dibuka setelah sampai di depan pintu masuk setiap Maktab.

7. Dilarang membuka pintu segel kecuali setelah sampai maktab di Arafah.

8. Jika kedapatan segel robek atau rusak, jemaah dalam bus tidak boleh masuk ke Arafah.

9. Dalam perjalanan dari Makkah ke Arafah, akan ada pemeriksaan (check point) yang dilakukan secara acak oleh pihak keamanan umum.

“Kami berharap proses ini akan berjalan tidak begitu lama. Ini bagian dari tantangan kita semua atas kebijakan baru yang diterapkan tahun ini. Tapi Insya Allah jika kerja sama antara maktab dan sektor perumahan jemaah haji Indonesia terjalin dengan baik, semua akan ringan. Ini tanggung jawab bersama,” tandas Amin Indragiri.

Rapat Koordinasi ini dihadiri Sekjen Kemenag M Ali Ramdhani, Irjen Kemenag Faisal Ali Hasyim, para Staf Khusus Menteri Agama, para Pejabat Eselon II Kemenag, Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro, serta Konsul Haji KJRI Jeddah Nasrullah Jasam. Hadir juga, Ketua Masyariq M Amin Indragiri beserta jajarannya, serta para pimpinan dari 73 maktab.

Sementara itu, terkait kesiapan layanan Armuzna, Amin menambahkan, pihaknya telah melakukan finalisasi persiapan layanan  di Armuzna. Persiapan itu antara lain berkenaan dengan listrik dan pendingin udara (AC).

“Alhamdulillah siang tadi sudah uji coba di Arafah. Selama enam jam listrik dan AC dihidupkan dan alhamdulillah berjalan dengan baik,” sebut Amin Indragiri.

Menurut Amin, saat ini seluruh maktab sedang menyiapkan beragam kelengkapan jemaah haji di tenda. Misalnya, memasang hambal atau kasur, baik di Arafah maupun Mina.

“Lebih 300 ribu meter tenda jemaah sudah dipasang conblock sehingga lantai tenda lebih rata dan harapannya bisa lebih nyaman untuk duduk dan tidur jemaah. Alhamdulillah selama 14 hari kerja siang dan malam, sudah selesai 100 persen,” sebutnya.

“Untuk makan siap saji, lebih 1,3 juta paket sudah sampai di Arab Saudi. Itu semua didatangkan dari Indonesia. Hanya tinggal dibawa ke Masyair saja,” sambungnya.

Terkait persiapan transportasi, Amin Indragiri mengatakan bahwa tahun ini pihaknya menargetkan penggunaan 500 – 600 unit bus dengan tipe city bus seperti yang digunakan untuk Bus Shalawat. “Alhamdulillah, setelah diupayakan, kita malah mendapat kabar telah memperoleh persetujuan untuk penggunaan 1.000 city bus,” ujarnya.

Di luar layanan Armuzna, Amin Indragiri menyebut bahwa Masyariq akan menyiapkan layanan tambahan berupa makanan Albaik. Makanan ini akan dibagikan kepada jemaah haji saat mereka akan meninggalkan Makkah, baik pulang ke Tanah Air atau menuju Madinah.

“Albaik sudah siap untuk dibagikan ke jemaah. Kami sudah melakukan kontrak resmi. Sebelum balik ke Indonesia atau Madinah, sebelum berangkat jemaah akan dapat Albaik,” tandasnya. (bua/van)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img