spot_img
spot_img
Sunday, April 14, 2024
spot_img
spot_img

Kopi Taji, Sensasi Minum Kopi Lereng Gunung Bromo

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Kopi menjadi salah satu minuman favorit untuk semua kalangan, mulai dari kaula muda hingga orang tua. Biasanya kopi menjadi minuman wajib ada saat sedang berkumpul dengan teman ataupun keluarga. Tingginya peminat kopi di Indonesia, maka muncullah berbagai produk olahan kopi yang terkenal dari berbagai daerah di indonesia, mulai dari Kopi Aceh, Kopi Lampung, Kopi Arjuno, Kopi Dampit dan masih banyak lagi.

Malang sendiri menjadi salah satu wilayah penghasil kopi yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas. Salah satu produk kopi terkenal dari wilayah Malang adalah Kopi Taji. Sesuai dengan namanya, Kopi Taji berasal dari Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Desa Taji sendiri terletak di lereng Gunung Bromo dan masuk kedalam wilayah Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru (TNBTS).  Melihat potensi dari komoditas kopi tersebut, maka menuntut Muhammad Sukron untuk mengembangkannya menjadi wisata agribisnis Kopi Taji.

“Sejarah dari Desa Taji ini memang penghasil kopi. Namun lambat laun masyarakat mulai beralih ke pertanian sayuran. Ternyata itu berdampak pada alam, karena banyak tanah yang gundul jadi sering terjadi longsor. Itu yang menjadi motivasi saya untuk kembali menanam kopi,” ungkap Owner Kopi Taji, Muhammad Sukron kepada Malang Posco Media.

WISATA: Pengelola Kopi Taji memberikan edukasi kepada pengunjung yang ingin wisata melihat kebun kopi dan pengolahan biji kopi.

Untuk menunjang penghasilan yang lebih stabil, Sukron mencoba untuk melakukan manajemen pengelolaan, salah satunya adalah dengan mencarikan pasar yang lebih baik. Bermula merintis untuk mulai menanam kopi lagi sejak 2010, akhirnya muncullah brand Kopi Taji di tahun 2016 dan terus berkembang hingga memiliki kedai kopi sendiri.

“Melalui manajemen pengelolaan yang baik, salah satunya dengan menjaga kualitas kopi,  alhamdulillah harganya standar dan dapat memperbaiki perekonomian masyarakat sekitar juga dan dapat terus kami kembangkan sampai sekarang. Selain itu disini pengunjung juga dapat menikmati kopi asli dari taji dengan pemandangan yang indah Gunung Bromo” jelasnya.

Lahan yang sudah ditanami kopi saat ini mencapai 85 hektar. Untuk pemasaran dari produk Kopi Taji ini dijual dalam bentuk bubuk kopi kemasan sejak tahun 2018 lalu. Terdapat dua varietas yang dihasilkan di Kopi Taji, yakni varietas Kopi Arabika serta Kopi Robusta. Selain menyediakan tempat untuk menikmati kopi secara langsung, Kopi Taji juga membuka edu wisata agribisnis bagi para pengunjung yang ingin tahu lebih banyak tentang kopi.

“Kami disini juga membuka untuk edukasi, mulai dari hulu hingga hilir. Kami berikan edukasi kepada pengunjung mulai dari pembenihan hingga sampai penyajian. Kita juga menyediakan paket wisata untuk para pengunjung,” ucapnya.

Dari paket wisata yang ditawarkan, pengunjung sudah dapat menikmati kopi taji dengan snack serta berkunjung ke beberapa wisata yang ada di sekitar lokasi, seperti wisata air terjun. Selain itu pengelola juga menyediakan paket untuk camp bagi para pengunjung yang ingin menginap dan menikmati suasana pegunungan di malam hari.

“Untuk pengunjungnya kebanyakan dari luar Malang. Selain menikmati kopi kebanyakan dari mereka juga ingin belajar mengenai tanaman kopi hingga menjadi secangkir kopi yang dihidangkan itu seperti apa. Jadi mereka juga mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang kopi disini,” papar Sukron.

Melalui perawatan hanya dengan menggunakan pupuk organik dan pengolahan yang tepat, mampu menghasilkan kopi yang berciri khas tersendiri dibanding dengan yang lainnya. Kedepannya Sukron akan terus mengembangkan wisata Kopi Taji, salah satunya adalah dengan dengan menggandeng destinasi wisata lain yang ada di sekitar, sehingga dapat bersama-sama membangun daerah wisata agribisnis yang dapat dikelola dengan baik oleh masyarakat sekitar.

“Kita juga turut serta menggandeng masyarakat untuk mengelola, tujuannya bukan untuk memberikan upah, tapi agar masyarakat selain dapat belajar, mereka juga dapat menghasilkan sesuatu dari belajar tersebut,” tuturnya.

Menurut Sukron, yang menjadi kendala yang dihadapi untuk saat ini adalah infrastruktur jalan yang masih kurang mendukung untuk wisata agribisnis. Ditambah dengan curah hujan yang tinggi, banyak kemungkinan terjadi longsor di beberapa titik.

“Harapannya pemerintah dapat merespon lah. Karena wisata Kopi Taji ini kan sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas, jadi mungkin bisa diperbaiki untuk infrastruktur jalan nya,” pungkasnya. (adm/bua)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img