spot_img
Monday, February 26, 2024
spot_img

Waspada Iklan Judi Online Mengatasnamakan Acara Najwa Shihab dengan Raffi Ahmad

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Malang Posco Media – Sebuah unggahan X mempertanyakan video yang mengatasnamakan Trans7, KompasTV, Najwa Shihab, Raffi Ahmad, hingga Atta Halilintar.

Dalam video yang diunggah di Instagram tersebut, terlihat Najwa Shihab dan Raffi ahmad mempromosikan sebuah akun judi online.

Berikut percakapan dalam video tersebut:

“Halo Mas Raffi, dengar-dengar Mas Raffi membuka situs judol baru yang bernama situs dufam 365 yang akhir-akhir ini lagi viral jadi perbincangan karena memberikan kemenangan besar, bisa dijelaskan kenapa buka situs ini?” ujar Najwa Shihab.

“Tujuan saya mendirikan situs dufam 365 ini adakah untuk saya jadikan ladang berbagi-bagi kepada masyarakat Indonesia dan khususnya masyarakat Indonesia yang bermain slot online agar mereka tidak sembarangan bermain di situs abal-abal, dan dengan adanya situs dufan 365 ini agar masyarakat tidak perlu khawatir lagi jika tidak dibayar karena situs yang dirikan ini menang berapa pun pasti dibayar dan saya berikan jaminan maxwin dengan beberapa kali deposit,” jawab Raffi Ahmad.

Namun, benarkah video Najwa Shihab dan Raffi Ahmad promosikan judi online?

Unggahan video hoaks yang menampilkan Najwa Shihab dan Raffi Ahmad promosikan judi online. Faktanya, suara yang digunakan divideo tersebut menggunakan AI. (Twitter)

Penjelasan:

Berdasarkan penelusuran, seperti diberitakan Antara, video tersebut serupa dengan acara Mata Najwa berjudul “Vaksin Siapa Takut – Raffi Ahmad: Pegal dan Ngantuk Setelah Divaksin”. Dalam keterangan video tersebut, rabu 13 Januari 2021, Raffi Ahmad divaksinasi, salah satu orang pertama di republik ini yang menerimanya. Raffi bercerita tangannya terasa pegal dan sedikit mengantuk.

AI Generatif seperti “deepfake” telah menjadi senjata baru untuk membuat disinformasi dan hoax yang sangat dikhawatirkan banyak banyak kalangan, termasuk oleh media massa dan pemerintah-pemerintah di banyak negara.

“Deepfake” bisa mengkloning dengan cepat suara orang, membuat video palsu, atau narasi palsu untuk menjatuhkan atau merusak citra lawan politik. Di sini, “Big Data” atau “Mahadata” menjadi bagian penting.

Selain itu, diketahui suara yang digunakan juga merupakan hasil Artificial Intelligence (AI). Dengan demikian, video tersebut merupakan hoaks.(ntr/mpm)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img