spot_img
Thursday, May 23, 2024
spot_img

Sikap Bestie Siswa pada Guru, Patutkah?

Berita Lainnya

Berita Terbaru

    Istilah bestie cukup viral di media sosial maupun dalam percakapan sehari-hari. Bahasa gaul, bestie umumnya digunakan para remaja sebagai sapaan pada teman yang dianggap dekat dan akrab. Bestie berasal dari singkatan informal kata best friend atau sahabat.

    Dalam pemakaiannya, ternyata kata ini tidak hanya digunakan oleh remaja saja namun komunitas orang dewasa, khususnya para perempuan saat menyapa teman lama yang baru berjumpa. Mereka tampak semakin akrab dan terlihat lebih gaul. Sapaan bestie kepada kawan, biasanya selalu diiukuti dengan gesture dan ekspresi keakraban, dengan tersenyum, merangkul atau memeluk.

    Hal yang menarik dan menjadi perhatian penulis saat ini adalah bahwa kata bestie ini digunakana oleh para remaja, yang notabene mereka adalah peserta didik perempuan atau laki-laki yang merasa akrab dengan gurunya.  Bapak dan ibu guru yang dianggap bestieoleh peserta didik.

    Guru yang dianggap bestie para siswa adalah orang yang dianggap dekat, akrab, serasa bersahabat, dan mudah diajak berkomunikasi meski sifatnyacurhat (curahan hati). Bahkan dalam menyatakan keakrabannya kepada guru, siswa tidak segan dengan bahasa yang eksplisit.

    Fenomena menarik yang perlu dicermati saat ini adalah sikap akrab siswa kepada guru. Profil guru yang bagaimana yang dianggap bestieoleh siswa? Pernyataan dua guru di SMPN 16 Malang menyebutkan bahwa guru yang dianggap bestie oleh para siswa adalah guru yang supel, menarik, bersikap akrab pada siswa, dan umumnya berusia muda. Sebaliknya, dalam pandangan siswa, guru yang disenangi dan diidolakan adalah guru berpenampilan rapi, humoris saat mengajar, mudah menjelaskan pelajaran dan tentunya baik.

Guru, Pendidik dan Pengajar

    Salah satu dari empat kompetensi yang penting dimiliki oleh guru adalah kompetensi kepribadian, selain pedagogik, profesi, dan sosial. Kepribadian guru dapat tercermin dari sikap dan perilaku sehari-hari. Guru mampu menjadi contoh dan teladan bagi siswa, lingkungan sekolah serta lingkungan masyarakat sehari-hari.

    Ada dua peran yang dilakukan guru dalam pembelajaran, yakni sebagai pengajar dan pendidik. Peran sebagai pengajar, banyak dilakukan oleh guru yakni memberikan pelajaran berupa ilmu penegetahuan dan keterampilan.         Adapun guru sebagai pendidik, selain guru bertugas membekali ilmu pengetahun dan keterampilan, guru juga melatih, membimbing mengarahkan, mendampingi, dan memotivasi siswa agar berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, dan berpikir secara cerdas.

    Peran guru sebagai pendidik ini membutuhkan strategi, model, pendekatan, dan pemahaman personal siswa dengan baik. Untuk itu, jika siswa telah merasa dekat, akrab, dan mengagumi guru, maka akan dengan mudah guru dapat masuk pada hati siswa untuk memasukkan pendidikan. Yakni nilai-nilai sopan santun, jujur, bertanggung jawab, toleransi, etos kerja, dan yang lain.

    Terlebih lagi pada Kurikulum Merdeka menuntut guru dan siswa bebas berinovasi dan berkreasi tanpa tekanan. Hal ini sebagaimana pandangan Bapak Pendidikan Kita, Ki Hajar Dewantara, bahwa “Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani.”

    Siswa menjadi manusia-manusia yang merdeka dalam mengembangkan potensi dan bakat yang dimiliki. Adapun guru pun merdeka dalam mengelola pembelajaran, mulai dari modul, strategi, teknik, media, capaian/ luaran pembelajaran dan evaluasi  guna memenuhi kebutuhan siswa, menguatkan menjadi insan yang berkarakter, bermoral, berpengetahuan dan terampil.

Sikap dan Tuturan Bestie

    Dalam pengelompokan manusia berdasarkan umur (Codrington, Marshall, Penguin: 2004) membedakan manusia menjadi beberapa kelompok generasi, mulai dari Generasi Baby Boomer, X, Y atau Milenial, Z, hingga Gen Alpha. Semakin muda usia generasi semakin melek teknologi. Seperti halnya para siswa SMP dan SMA pada Gen Z.

    Mereka memiliki karakteristik a) aktif berkomunikasi di dunia maya, b) cakap memanfaatkan teknologi masa kini, c) mandiri, d) terbuka, e) mudah berinteraksi, f) aktif bersosialisasi, g) berpikir kritis, dan h) mudah mengambil keputusan. Beberapa karakteristik yang dimiliki Gen Z seperti sifat terbuka, mudah berinteraksi dan bersosialisasi serta berkomunikasi, tidak mustahil siswa mudah akrab dengan guru,  dianggap sefrekuensi alias terbuka. Para siswa tidak segan menganggap guru sebagai bestienya. Dan untuk lebih mengakrabkan diri dengan para guru, siswa merepresentasikan melalui sikap dan tuturan.

Berdasarkan informasi guru, tuturan yang menggambarkan bestie dinyatakan dalam pernyataan siswa kepada guru, “Weh, kacamatanya baru nih! Tambah cantik lo, Bu!.” Tuturan ekspresi pujian siswa kepada guru ini tentu membuat guru senang. Pernyataan spontan siswa saat berpapasan dengan guru sebagai pujian yang tulus.  

Bagi Gen Z mengomunikasikan hal yang mereka rasakan sebagai ekspresi pujian patut dicetuskan. Mereka akan merasa lega setelah mengungkapkannya. Situasi saat ini berbeda dibandingkan dengan era dahulu, Generasi Baby Boomer. Pada masa itu, kedekatan kepada guru kurang dan mungkin sikap memuji pada guru dianggap tabu dan kurang sopan.

    Era keterbukaan, modern, dan transparan saat ini, memungkinkan segala sesuatu yang bagus penting disampaikan dan ditunjukkan. Celetukanbestie siswa pada guru, “Aku kangen loBu diajar Bu Erla, kangen curhat di kelas.” Lalu guru pun menimpali dan berkata, “Yak, kamu ke staf to Le. Cerita di staf nanti tak buatin kopi, nek di kelas kan ndak bisa ngopi.”

    Sikap guru yang bersahabat ditunjukkan dengan penggunaan bahasa nonformal dan meminta siswa datang ke ruang staf untuk menyampaikan isi hati dan akan disiapkan kopi tidak banyak dilakukan guru. Sikap guru yang demikian membangun keakraban dan kedekatan. Seolah tidak ada jarak.

    Pun tuturan siswa laki-laki, “Pak, tugase wis selesai, istirahatyo, Pak?” Nah, bahasa siswa yang demikian kepada guru, kira-kira bagi guru Gen Baby Boomer atau Gen X bagaimana ya? Pasti dianggap tidak sopan!

Sikap akrab siswa kepada guru serta sebaliknya dalam pandangan pedagogik penting dibangun. Hal ini dapat menumbuhkan kedekatan, kepercayaan, dan memotivasi siswa untuk belajar. Bukankah seorang pendidik menganggap siswa sebagai anak-anak yang akan ditumbuhkan dan dikuatkan potensi, bakat dan minatnya agar menjadi orang-orang yang sukses di kemudian hari.      Untuk itu, dalam perspektif pendidikan saat ini penting mengubah pandangan bahwa peserta didik adalah objek yang dapat diberi dan diisi apapun tanpa memperhatikan kebutuhan yang sesuai dengan potensinya. Mereka adalah anak-anak muda yang akan membangun bangsa yang perlu dikuatkan pribadinya.

    Mereka membutuhan bimbingan, arahan, tuntunan, dengan sikap, bahasa, dan keteladanan dari para guru, keluarga, lingkungan serta para pimpinan yang kelak akan digantikan. Sikap bestie, sebagai bentuk egaliter yang didasarkan pada nilai-nilai kesopanan dan tata krama yang berlaku pada budaya Indonesia yang majemuk penting diciptakan guru dalam pembelajaran.(*)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img