spot_img
spot_img

KTN Diresmikan, Upaya Deradikalisasi Eks Napiter

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Lahan seluas sekitar 15 hektar di wilayah Kelurahan Sedayu Kecamatan Turen telah dijadikan Kawasan Terpadu Nusantara (KTN) oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Program tersebut merupakan kerjasama antara BNPT dengan Pemerintah Kabupaten Malang dan Universitas Islam Malang (Unisma).

Pengembangan KTN diperuntukkan bagi berbagai usaha bagi puluhan mantan narapidana terorisme. Jumlahnya sekitar 30 orang dari total 40 eks napiter di Jawa Timur yang akan ditempatkan di Kabupaten Malang. Mereka akan berperan menggerakkan ekonomi di wilayah setempat. Sisanya masih ada satu titik KTN lain yakni di Kecamatan Tumpang.

Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar pada Kamis (24/3), datang ke lokasi KTN untuk melakukan soft launching. Didampingi Bupati Malang dan jajaran Forkopimda. Boy berujar, bentuk penggerakan ekonomi menjadi salah satu upaya mensejahterakan eks napiter dan menghindari dari kembali pada radikalisasi dan terorisme.

“Konsep pembinaan ini ada unsur edukasi, ekonomi dan wisata. Tentunya setiap bagian dikelola oleh koperasi mitra BNPT, tokoh masyarakat, dan mitra deradikalisasi,” ujarnya.

Berita Lainnya:  Hari Kesehatan, Momentum Berbenah

Dikatakan, pembentukan KTN telah ditopang beberapa perusahan BUMN dan sejumlah perusahaan swasta yang bersedia berkerjasama membantu.

“Program ini untuk edukasi masyarakat, agar mendukung pencegahan terorisme. Kami berharap sosial ekonominya juga berdampak pada kesejahteraan,” tambahnya.

Soft Launching yang dilakukan di Kelurahan Sedayu Turen merupakan kali pertama program KTN diresmikan. Boy menjelaskan, hal ini mendapat respon positif dari lembaga kementerian terkait dengan ikut berkontribusi mengelola warga binaan.

Bekas napiter akan diwadahi dalam sebuah koperasi. Mereka akan dilatih untuk mengembangkan usaha pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Disesuaikan dengan minat masing-masing. “Koperasi dikembangkan menjadi beberapa unit usaha. Hasilnya digunakan untuk mantan napiter,” ujarnya.

Boy menyebut masyarakat bisa bergabung turut terlibat dalam usaha deradikalisasi tersebut. Program kelanjutan deradikalisasi, katanya, dilaksanakan sejak ditetapkan tersangka hingga keluar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Saat keluar Lapas, biasanya mereka mengalami hambatan dalam reintegrasi di tengah masyarakat.

Berita Lainnya:  Menikmati Air Terjun Tiga Tingkat Berhias Pelangi

Pencegahan terorisme terbagi dalam tiga aspek yakni kesiapsiagaan, deradikalisasi dan kontra radikalisme. Program tersebut, katanya, menjadi rencana aksi nasional pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan.

“Sudah disosialisasikan menjelang tahanan keluar dan disiapkan koperasi. Jadi bukan hanya yang sudah dari lapas tapi nanti yang akan keluar, dua tahun lagi sudah ada wadah,” terangnya.

Rektor Unisma, Profesor Dr. Maskuri menyiapkan tim untuk menyusun master plan. Tim itu terdiri atas sejumlah akademisi dari Fakultas Peternakan, Teknik, dan Kedokteran. Kawasan ditekankan dalam konsep kewirausahaan dan kajian keilmuan. “Terintegrasi, sekaligus menjadi pusat studi ketahanan pangan dan anti radikalisme,” katanya.

Sementara itu, Bupati Malang M. Sanusi menyatakan lahan yang merupakan milik Pemkab dihibahkan untuk mendukung program deradikalisasi BNPT. Menurutnya, terorisme harus ditangkal secara bersama-sama. Berkolaborasi termasuk melibatkan Perguruan Tinggi dan sektor yang berkaitan. “Semoga bermanfaat untuk Indonesia,” katanya. (tyo/imm)



BERITA LAINNYA