spot_img
spot_img

BUKAN RATU ADIL

MALANG POSCO MEDIA – Pada 15 Juli 2021, BPS merilis laporan bahwa pada Maret 2021 sebesar 10,14 persen atau sebanyak 27,54 juta penduduk Indonesia berstatus miskin, menurut sumber yang sama, ternyata jumlah pengangguran di Indonesia ada sebanyak 9,1 juta orang per Agustus 2021. 

Lembaga survey kesejahteraan Cigna mencatatkan indeks persepsi kesejahteraan Indonesia 2021 sebesar 63,8 poin atau lebih rendah dari tahun 2019 yakni 65,4 poin dan 66,3 poin di 2020.

Di sisi yang lain, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi utang pemerintah pada akhir Juli 2021 berada di angka Rp 6.570,17 triliun, dengan rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 40,51 persen, dan menurut banyak ahli eknomi situasi ini sudah mengkhawatiran.

Menarik lagi hasil dari riset Transparency International Indonesia (TII), bahwa Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada tahun 2020 turun di angka 37, dimana hal ini bermakna bahwa korupsi yang terjadi Indonesia semakin parah. Tercatat ada 114 kepala daerah yang terjerat kasus korupsi dan berakhir di penjara sejak tahun 2004 hingga tahun 2019. Belum lagi kasus korupsi yang menjerat anggota DPR, menteri dan pejabat publik serta politisi yang lainnya.

Bangsa ini sudah 77 tahun merdeka, dan di 77 tahun ini ada semangat kepahlawanan yang seharusnya terus menjadi “bara” dalam menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa. Bahwa krisis multidimensi yang terjadi saat ini di negara kita harus secara serius diurai agar tidak berujung pada kehancuran bangsa.

Mungkin kita perlu banyak belajar ke Amerika, dimana mereka pernah mengalami fase depresi ekonomi terbesar dalam sejarah dari tahun 1929 hingga 1937. Selang lima tahun setelah itu, tepatnya tahun 1942, mereka memasuki Perang Dunia Ke II dan mereka menang.

Selama masa itu, mereka dipimpin oleh seorang pemimpin yang lumpuh, dan satu-satunya presiden yang pernah terpilih sebanyak empat kali, FD. Rosevelt. Tapi krisis itu justru membuat mereka besar, selama masa depresi mereka menemukan teori-teori makroekonomi yang sekarang kita pelajari di bangku kuliah dan menjadi pegangan perekonomian dunia. Bukan hanya itu, mereka juga memenangkan Perang Dunia II dan berkuasa penuh di muka bumi hingga saat ini.

Berita Lainnya:  MALANG, SEPENGGAL FIRDAUS INDONESIA

Itulah yang terjadi ketika kriris dikelola oleh tangan dingin pahlawan. Mereka mengubah tantangan menjadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, kecemasan menjadi harapan, ketakutan menjadi keberanian, dan krisis berbuah kemajuan dan kemakmuran.

Saat ini para pengamat ekonomi sudah mulai membeberkan bahwa tahun 2023 yang tidak lama lagi ini, bangsa kita akan masuk ke dalam situasi krisis dan resesi. Belum lama pulih dari badai resesi akibat pandemi Covid 19 kita akan dihantui kembali oleh situasi ekonomi yang tidak mudah.

Di sinilah peran dan tanggung jawab seorang leader dipertaruhkan. Kemampuannya untuk menjaga stabilitas ekonomi, sosial dan keamanan selama resesi dan pasca resesi menjadi hal yang menentukan.

Meskipun krisis merupakan area gelap dan asing bagi para leader (pemimpin) dan tidak banyak pemimpin yang terbiasa dan sanggup melewati masa-masa krisis, namun ada yang mengungkapkan bahwa krisis adalah titik belok yang bisa berujung pada satu titik persimpangan, dan ia bisa membawa pada situasi yang lebih baik atau justru sebaliknya pada siatuasi yang lebih buruk.

Dalam laporan yang di release oleh Harvard Business Review, Chris Nicols menuliskan hasil risetnya mengenai karakter yang harus di miliki oleh seorang leader ketika menghadapi krisis. Keempat karakter tersebut terdiri dari; Pertama, kemampuan mengambil keputusan dengan cepat. Kedua, melakukan adaptasi dengan cepat dan tepat. Ketiga, mendorong rasa tanggung jawab pada team, dan Keempat, memiliki kemampuan untuk memperkuat engagement dengan seluruh anggota team dalam bisnis dan organisasinya.

Berita Lainnya:  Korupsi Menodai Independensi Penegakan Hukum

Pada tahun 1900-an seorang penulis ternama bernama Napoleon Hill melakukan sebuah riset pada 500 orang kaya selama 20 tahun, riset ini dilakukan setelah pertemuannya dengan salah satu konglomerat Amerika Serikat waktu itu bernama Andrew Carnegie.

Hasil riset yang dikemudian hari dibukukan dengan judul buku “Think Rich and Grow Rich” dan menjadi best seller ini, seolah menjadi kitab panduan yang “sahih” bagi siapa saja yang mengingkan dirinya menjadi orang kaya raya dan menjadi panduan bagi siapa saja yang menginginkan kemakmuran dalam kehidupannya.

“Apapun yang bisa dibayangkan dan diyakini pasti akan bisa di raih”, atau berpikir dan menjadi kaya, begitulah kira-kira cuplikan dari salah satu isi buku yang terjual 15 ribu eksemplar di waktu awal baru diterbitkan ini. Ada kurang lebih 14 prinsip dan resep kaya raya dan kemakmuran yang di tuliskan oleh Napoleon Hill dalam bukunya tersebut, dan salah satunya adalah kemampuannya dengan cepat dalam mengambil keputusan.

“Pahlawan itu bukan Ratu Adil”, yang kehadirannya dinanti-nanti banyak orang tapi menjadi kontroversi dan diperebutkan statusnya. Pahlawan adalah mereka yang senantiasa memiliki keberanian, kesabaran, pengorbanan, optimisme, vitalitas dan imajinasi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan besar untuk membangun kehormatan dan martabat bangsanya.

Naluri seorang pahlawan adalah motivasi tertingginya untuk memberikan pengabdian dan kemanfaatan dirinya bagi orang-orang di sekitarnya dan masyarakat secara luas.

Pahlawan itu lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah Aku, Kamu, dan Kita Semua. Mereka bukan orang lain, bukan juga Ratu Adil. Mereka hanya belum memulai, mereka hanya perIu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka dan dunia akan menjadi saksi atas kegemilangan Nusantara bangsa kita tercinta.(*)



BERITA LAINNYA

Sepak Bola dan Kuasa Televisi

Diferensiasi Kurikulum di Madrasah

LA’EEB

Stadion Layak Anak, Mengapa Tidak?

PEMIMPIN BERDAMPAK

Sihir Qatar dan Piala Dunia 2022

Muhammadiyah

Taman Raksasa

Transformasi Digital Ekonomi

Malang Creative Center

Potret Ironi Industri Tembakau

PROPHETIC LEADERSHIP